Pfotenhauerstrasse 30, 01307, Dresden
0351-65677400
mail.formid@gmail.com

Nasionalisme Dalam Kaca Mata Generasi Muda: Sudahkah Indonesia Merdeka?

Nasionalisme Dalam Kaca Mata Generasi Muda: Sudahkah Indonesia Merdeka?

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke salemba
Sore itu
 
Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
 
Karangan Bunga, karya Taufik Ismail

Mengutip sebuah puisi buatan Taufik Ismail, sastrawan Indonesia yang ikut berjuang mempertahankan ideologi negara kita pada masa-masa sesudah proklamasi Indonesia dahulu, teringatlah kita akan perjuangan rakyat Indonesia melawan “peperangan“ di dalam negara kita sendiri, melawan komunisme dan paham-paham perusak kesatuan. Bagaimana pada masa itu banyak generasi muda yang sampai mengorbankan waktu, tenaga, identitas, dan nyawa demi meruntuhkan tembok-tembok pemisah keutuhan bangsa. Taufik Ismail, kalau kita masih ingat, adalah salah satu sastrawan angkatan ’66, suatu golongan sastrawan yang berkomitmen bersama untuk meneruskan perjuangan sastrawan angkatan ’45 yang dipelopori oleh Chairil Anwar, dalam memperjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1966, tentu Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan. Lantas, apa
lagi yang diperjuangkan?

Pada masa itu, pemerintahan Indonesia masih tergolong sangat muda dan layaknya remaja yang masih belia, mudah dipengaruhi oleh paham-paham dan isu-isu politik yang menguntungkan pihak-pihak tertentu. Pada tahun inilah, Indonesia berperang melawan kediktatoran dan penyelewangan-penyelewengan politik yang menjurus ke komunisme. Para sastrawan muda bangkit dan berkumpul, mengangkat pena dan menyingsingkan lengan bajunya demi melepaskan bangsa ini dari jerat sosialisme dan komunisme. Berangkat dari sini, masih perlu kah Indonesia memperjuangkan kemerdakaannya sekarang ini?

Tahun 2020 merupakan tantangan, perubahan, dan usaha yang keras bagi hampir semua orang di dunia, termasuk Indonesia. Sejak pandemi SARS-CoV-2, atau lebih sering disebut dengan nama virus penyebabnya, Covid-19, dimulai di awal tahun 2020 lalu, Indonesia telah berjuang dengan melakukan segala cara demi memitigasi penyebaran virus penyakit ini. Hingga kini, negara kita masi berupaya keras untuk mengurangi pengorbanan-pengorbanan nyawa, materi, waktu, dan tenaga demi melindungi sebanyak-banyaknya nyawa dan kesehatan rakyat Indonesia. Sebagai seorang pelajar, pekerja, anak, orang tua, orang dewasa, remaja, pengajar, dan pemegang peranan bangsa lainnya, apakah yang dapat kita lakukan?

Seperti yang kita tahu, sampai detik ini para petugas kesehatan dan penegak keamanan sedang berjuang keras merawat para pasien dan bertugas mempertahankan keamanan masyarakat Indonesia dari cekaman pandemi. Yang tidak kita lihat adalah betapa seringnya kita dan orang-orang di sekitar kita menyakiti bangsa kita sendiri dengan mengkritik semua kebijakan pemerintah tanpa pandang bulu, menyebarkan berita-berita hoaks dan isu-isu tidak terverifikasi yang memicu kepanikan dan ketakutan orang lain, dan melanggar aturan-aturan yang ditetapkan. Kita menciptakan peperangan dengan bangsa kita sendiri dengan menyalahkan pihak atau golongan tertentu sebagai penyebab penyebaran penyakit ini dan menuduh petugas dan institusi kesehatan tidak becus dalam menjalankan tugasnya, semuanya keluar dari mulut kita yang tidak memakai masker.

Ketika para olahragawan meraih medali pada Olimpiade Tokyo 2020 banyak di antara masyarakat Indonesia yang berbangga diri dan begitu banyak puji-pujian menghujani media sosial. Tentu sangat membahagiakan, melihat para anak bangsa mengharumkan nama Indonesia di kancah kompetisi dunia. Tetapi, perlu kah kita meraih medali emas untuk mencintai negara ini? Kalau Indonesia tidak mendapat satu medali pun, mampukah kita masih mencintainya? Pramoedya A. Toer, dalam karangannya Gerak Juang, mengatakan:

“Kalau yang satu mulia, yang lain tidak, kira-kira yang satu sudah merampas kemuliaan yang lain.”

Nasionalisme palsu yang diutarakan mulut-mulut di media sosial, yang hanya membanggakan Indonesia ketika disandingkan dengan negara lain, adalah suatu cara merampas kemuliaan bangsa kita. Bangga kah kita dengan dibukanya panti-panti asuhan, rumah-rumah singgah untuk para tunawisma, dan pondok-pondok belajar untuk anak-anak tidak mampu? Salut kah kita dengan beasiswa-beasiswa yang digalang oleh komunitas-komunitas untuk membiayai anak putus sekolah tanpa memandang latar belakang? Begitu banyak kemuliaan yang tidak kelihatan dan kita scroll down karena terkesan tidak menarik dalam kaca mata nasionalisme kita.

Teruntuk kita pejuang modern di masa pandemi, ingatlah identitas kita sebagai seorang Indonesia dan bahwa suatu negara tidak terbentuk dengan segelintir pemimpin saja, melainkan perlu juga rakyatnya. Dengan segala kekurangannya, kita dan Indonesia telah berjuang dan merdeka. Jangan sampai kemerdekaan ini dirampas oleh egoisme dan nafsu materiil kita sendiri. Dengan melindungi diri sendiri, dalam situasi pandemi ini, kita juga telah melindungi orang lain. Sesuai dengan peribahasa yang sering kita hafalkan di sekolah dulu, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, maknailah perbedaan dan perdamaian Indonesia bersama-sama! Selamat menyongsong Kemerdekaan Indonesia yang ke-76, Dirgahayu Indonesia!

Hari ini aku menuju satu puncak tangga yang baru
Karena aku akan membuka lembaran baru
Untuk sisa jatah umurku yang baru
Dikutip dari Puisi kehidupan, Chairil Anwar

 Ditulis oleh: Patricia Rika Ariani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *